Sektor Pertanian

Standard

Kelompok 1:
Diah Pramasti (21216955)
Fajar Oktavaria N. (22216562)
Hastika Aulia Firdhausya (27216973)
Rizky Akbar (26216592)
Widi Fadila W.P (27216625)

Kelas: 1EB19

Mata Kuliah: Perekonomian Indonesia#

  1. Sektor Pertanian di Indonesia

Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung dalam pembangunan perekonomian nasional. Selain mampu menyerap tenaga kerja, sektor pertanian juga berperan penting dalam pembentukan PDB, penerimaan devisa, penyediaan pangan, pengentasan kemiskinan, perbaikan pendapatan masyarakat, bahkan pembentuk budaya bangsa dan penyeimbang ekosistem.

Peran Sektor Pertanian dalam Kehidupan

  • Menyediakan kebutuhan pangan penduduk
  • Menyerap tenaga kerja
  • Pemasok bahan baku industri
  • Sumber penghasil devisa

Sub Sektor Pertanian

1) Tanaman Pangan

  • Biasanya diusahakan oleh rakyat, bukan oleh pengusaha atau pemerintah.
  • Komoditas: padi, jagung, ketela, kacang tanah, kedelai, sayuran dan buah-buahan

2) Perkebunan

  • Perkebunan rakyat: diusahakan sendiri oleh rakyat, skala kecil, teknologi budidaya sederhana. Hasil: karet, kopra, teh, kopi, tembakau, cengkeh, kapas, dan rempah-rempah
  • Perkebunan besar: dijalankan oleh perusahaan perkebunan berbadan hukum. Hasil: karet, teh, kopi, kelapa sawit, coklat, kina, tebu, rami, dan berbagai serat.

3) Kehutanan

  • Penebangan kayu-kayu londongan, kayu bakar, arang, bambu.
  • Pengambilan hasil hutan lain seperti damar, rotan, getah kayu, kulit kayu, akar-akaran, umbi kayu.
  • Perburuan: binatang liar-rusa, penyu, ular, dan buaya

4) Peternakan

  • Beternak
  • Pengusahaan hasil ternak
  • Subsektor ini meliputi produksi ternakternak besar & kecil, telur, susu segar, wool, hasil pemotongan hewan.

5) Perikanan

Semua hasil kegiatan perikanan laut, perairan umum, kolam, tambak, sawah, keramba, pengolahan sederhana produk perikanan (pengeringan & pengasinan) Pembedaan kegiatan dari segi teknis:

  • Perikanan laut
  • Perikanan darat
  • Penggaraman
  • Komoditas: ikan, udang, ubur-ubur, kepiting

Program Pengembangan Pertanian

  • Peningkatan produksi
  • Peningkatan pendapatan pelakunya (petani, pekebun, peternak, nelayan)
  • Pembangunan sarana prasarana (pengadaan & pelancaran faktor produksi, pengembangan jaringan irigasi dan jalan, kebijaksanaan tata niaga & harga, penelitian)
  • Pada PJP I sektor pertanian merupakan prioritas pembangunan.
  • Swasembada beras (1984) untuk meningkatkan kualitas gizi, pendapatan masyarakat & stabilitas ekonomi nasional.
  • Pengimpor beras terbesar di dunia (1970an)
  • Pertanian sebagai penyumbang terbesar dalam PDB (1990)
  • Peran pertanian digantikan sektor industri pertanian (1990an) padahal:
    • Masih banyak tenaga kerja yg bekerja di sektor pertanian
    • Kualitas SDM yg bekerja di sektor pertanian relatif rendah
    • Produktivitas rendah
    • Pendapatan rendah

Perubahan Struktural Perekonomian Indonesia

  • Menurunnya peranan sektor pertanian, dan meningkatnya peranan sektor industri
  • Namun perubahan struktural ini belum mantap karena:
  • Baru merupakan perubahan struktur pendapatan
  • Struktur ketenagakerjaan belum berubah
  • Produktivitas antar sektor timpang

Upaya Revitalisasi Pertanian

Penjaminan ketersediaan pangan yang berasal dari produk dalam negeri menuju swasembada pangan pokok seperti padi, jagung, kedelai, minyak goreng dan tebu/gula. Selain itu, perlu diadakan peningkatan:

  • Penyediaan protein hewani dari hasil ternak & ikan
  • Kualitas pertumbuhan pertanian, perikanan, kehutanan
  • Kualitas pengelolaan hutan secara lestari
  • Kesejahteraan & pendapatan petani, nelayan, pembudi daya ikan, & petani hutan

Perlunya Revitalisasi Kehutanan

Meningkatnya degradasi sumber daya hutan mengakibatkan peran & fungsi kehutanan semakin menurun termasuk penurunan fungsi Indonesia sebagai paru-paru hijau dunia & penurunan keanekaragaman hayati.

Hal ini akibat industri kehutanan Indonesia belum mampu menjadi penggerak perekonomian nasional dan belum mampu menangkap peluang permintaan pasar atas produk kehutanan secara nasional & global. Industri kehutan juga memiliki tingkat ketahan yang rendah serta hanya berbasiskan keunggulan bahan baku.

Oleh karena itu, daya saing global industri kehutan Indonesia perlu ditingkatkan.

Permasalahan Revitalisasi Pertanian

Kepemilikan lahan relatif sempit serta isu pengalihfungsian lahan pertanian non pertanian menyebabkan semakin rentannya peningkatan produksi pangan pokok. Selain itu, masalah lain yang yang muncul antara lain adalah:

  • Tingkat produksi, produktivitas & mutu hasil produksi rendah
  • Infrastruktur pertanian yang belum baik
  • Lambatnya transfer teknologi dan perkembangan mekanisasi kepada petani
  • Rendahnya akses petani pada sumber daya produktif seperti modal dan informasi
  • Kelembagaan petani (penyuluhan) belum berkembang
  • Resiko bencana alam yang berdampak pada pertanian semakin tinggi
  • Penanganan wabah dan hama perlu ditingkatkan
  • Harga sarana produksi & hasil pertanian fluktuatif
  • Lemahnya sistem informasi pemasaran
  • Keamanan & kepastian hukum dalam berusaha

2. Nilai Tukar Petani (NTP)

NTP merupakan perbandingan antara Indeks harga yg diterima petani (It) dengan Indeks harga yg dibayar petani (Ib) yang digunakan sebagai indikator proxy kesejahteraan petani

Arti Angka NTP

  • NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.
  • NTP = 100, berarti petani mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.
  • NTP< 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Manfaat

  • Dari Indeks Harga Yang Diterima Petani (It), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani. Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian.
  • Dari Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Perkembangan Ib juga dapat menggambarkan perkembangan inflasi di pedesaan.
  • NTP mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan petani dalam produksi dan konsumsi rumah tangga.
  • Angka NTP menunjukkan tingkat daya saing produk pertanian dibandingkan dengan produk lain. Atas dasar ini upaya produk spesialisasi dan peningkatan kualitas produk pertanian dapat dilakukan.

3. Investasi di Sektor Pertanian

Sebagai sektor primer dalam perekonomian Indonesia, pertanian merupakan sektor utama yang menyumbang hampir dari setengah perekonomian. Pertanian juga memiliki peran nyata sebagai penghasil devisa negara melalui ekspor. Oleh karena itu, perlu diadakan pembangunan dalam sektor pertanian sehingga dapat bersaing di pasar dalam negeri maupun di luar negeri. Investasi di sector pertanian tergantung pada :

  • Laju pertumbuhan output
  • Tingkat daya saing global komoditi pertanian

Faktor-faktor yang Memengaruhi Investasi Pertanian

  • Faktor pemerintah(kebijakan investasi, regulasi dan birokrasi, serta pemerintahan dan politik)
  • Sumberdaya alam berupa lahan yang cukup (jumlah dan mutu), pasokan air yang cukup untuk pengairan pertanian dan kondisi iklim yang sesuai.
  • Sumberdaya manusia yang cukup
  • Tersedianya investasi, kondisi ekonomi makro, harga input dan output pertanian, permintaan output pertanian dan persaingan usaha

Identifikasi Penyebab Investasi Pertanian Terhambat

  • Sektor pertanian memiliki risiko dan ketidakpastian yang sangat tinggi dibanding sektor lain.
  • Minimnya sarana pendukung yang tersedia menjadi
  • Masih sulitnya birokrasi yang ada apabila hendak mendirikan usaha pertanian yang memiliki skala ekonomi yang cukup besar sehingga menjadi kurang menarik.
  • Masih maraknya pungutan-pungutan liar di Indonesia sehingga semakin meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan.
  • Adanya otanomi daerah yang terkadang kebijakannya tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah pusat.
  • Anggapan bahwa investasi sektor pertanian tidak menarik dibandingkan dengan sektor lain.

Indikator Peluang Investasi Pertanian di Indonesia ke Depan

  • Ketersediaan sumberdaya alam (lahan, air, dan iklim) dan sumber daya manusia yang masih besar.
  • Permintaan domestik terhadap produk pertanian akan terus meningkat karena meningkatnya penduduk yang jumlahnya sudah besar dan makin tingginya pendapatan masyarakat.
  • Naiknya harga pangan dunia akhir-akhir ini memberikan peluang lebih besar kepada pelaku usaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
  • Pemerintah Indonesia telah bertekad untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai kebijakan dan peraturan.

Dampak Investasi Pertanian

  • Dampak ekonomi
    • Meningkatnya produksi berbagai komoditas pertanian dan makin kokohnya ketahanan pangan nasional
    • Semakin tinggi pendapatan para pelaku usaha termasuk petani, devisa negara, dan PDB sektor pertanian.
  • Dampak sosial
    • Semakin tinggi penyerapan tenaga kerja, baik pada perusahaan dan usaha perserongan yang melakukan investasi, maupun di daerah perdesaan secara umum.
    • Menurunnya jumlah masyarakat miskin di perdesaan sehingga dapat mengurangi laju urbanisasi yang menambah masalah di daerah perkotaan

Kebijakan Investasi yang dilakukan Pemerintah

Kebijakan investasi yang telah dilakukan oleh pemerintah di antaranya:

  • Menciptakan stabilitas politik (mayoritas dan minoritas), stabilitas sosial (kesenjangan sosial, dan SARA), stabilitas ekonomi (harga-harga, tarif, nilai tukar mata uang, inflasi, suku bunga bank)
  • Mendorong berkembangnya investasi di berbagai sektor terutama pangan, energi dan infrastruktur dalam rangka meningkatkan persebaran investasi
  • Mendorong berkembangnya investasi berbasis keunggulan daerah, antara lain sektor primer, sekunder dan tersier dalam rangka penciptaan kesempatan kerja
  • Meningkatkan investasi pemerintah yang sangat diperlukan sebagai komplemen bagi investasi swasta dan rakyat di bidang pertanian, seperti penelitian dan pengembangan pertanian untuk inovasi teknologi, prasarana jalan dan pelabuhan untuk pengangkutan input dan output, dan masih banyak lagi
  • Mempermudah kepemilikan ataupun kontrak tanah perusahaan swasta tetapi mayoritas lahan pertanian jangan sampai dikuasai perusahaan asing
  • Menciptakan sistem perpajakan (PPN, PPH) dan prosedur perdagangan ekspor-impor dan perdagangan domestik yang lebih mudah dan sederhana
  • Melakukan pembinaan tenaga kerja agar lebih trampil, disiplin dan mempunyai etos kerja yang tinggi disertai dengan sistem reward and punishment yang jelas untuk mencapai produktivitas kerja yang semakin tinggi

Dengan adanya kesinergisan kebijakan maka investor mendapatkan suatu kepastian kebijakan investasi sehingga mereka dapat lebih mudah untuk mengambil keputusan investasi.

4. Keterkaitan Pertanian dengan Industri Manufaktur

Pada awalnya, pembangunan perekonomian negara-negara maju menitikberatkan pada sektor pertanian yang kemudian berkembang dan beralih perlahan-lahan menjadi sektor industri. Perubahan ini tidak berlangsung secara tiba-tiba melainkan melalui serangkaian proses yang panjang dan tentunya pertanian dijadikan sebagai pondasi, baik sebagai penyedia bahan baku maupun modal untuk membangun industri.

Menurut Dr. Tulus Tambunan dalam bukunya yang berjudul Perekonomian Indonesia, terdapat beberapa alasan mengapa sektor pertanian yang kuat sangat esensial dalam proses industrialisasi di Indonesia, di antaranya:

  • Sektor pertanian yang kuat menandakan bahwa ketahanan pangan terjamin. Ini merupakan salah satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan pangan  berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial dan politik.
  • Dari sisi permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat pendapatan ril per kapita di sektor tersebut tinggi. Hal ini merupakan salah satu sumber permintaan terhadap barang-barang non-food, khususnya manufaktur. Di Indonesia, di mana sebagaian besar penduduk berada di pedesaan dan mempunyai sumber pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan pertanian, jelas sektor ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
  • Dari sisi penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor industri yang mana Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
  • Masih dari sisi penawaran, pembangunan yang baik di sektor pertanian bisa menghasilkan surplus di sektor tersebut sehingga dapat menjadi sumber investasi di sektor industri, khususnya industri berskala kecil di pedesaan.

5. Contoh Kasus

Contributions from Agriculture Sector Remain Low

Monday, 27 March, 2017 | 19:28 WIB

(https://en.tempo.co/read/news/2017/03/27/056860087/Contributions-from-Agriculture-Sector-Remain-Low diakses pada Jumat, 14 April 2017 pukul 9.24 WIB)

TEMPO.CO, Jakarta – Finance Deputy Minister, Mardiasmo, said that Indonesia’s economic growth and those of other countries today are far worse than those in the 90s.

Mardiasmo explained that Indonesia’s economic growth in the 90s was mainly supported by the agriculture sector that made up 50 percent of the total GDP. However, over the years, the sector’s contribution started to decrease during the global crisis in 1998.

“The agriculture sector’s role decreased to 23 percent in 1982 and finally to 13.5 percent in 2016,” Mardiasmo said in Jakarta on Monday, March 27, 2017.

Mardiasmo added that although the agriculture sector’s role in Indonesia’s economic system continued to slow down, labors working in this sector reached 32 percent in 2016.

According to Mardiasmo, the agriculture sector plays a strategic role in Indonesia’s economy, particularly to support the food resiliency program. Therefore, Mardiasmo revealed that the government is striving to improve the sector’s contribution to the national economic growth, by providing subsidies for fertilizers, food, and seeds.

“Infrastructure developments are crafted by the government to support agriculture distributions and cut logistics costs in a bid to lower prices of agriculture products,” Mardiasmo said.

Analaysis:

The more developed a country, the lesser agriculture sector’s role for GDP. This condition is definetely very ironic for developing countries which are dominated by the agriculture sector due to couldn’t able to compete even dependent to developed countries

In Indonesia, according to Mardiasmo as Finance Deputy Minister, economic growth today are far worse than those in the 90s. The agriculture sector was mainly supported but started to decrease during the global crisis in 1998. The agriculture sector plays a strategic role in Indonesia’s economy, particularly to support the food resiliency program. So, to support agriculture distributions and cut logistics costs the government develops infrastructure to lower prices of agriculture products.

Referensi:

PDB, Pertumbuhan, dan Perubahan Struktur Ekonomi

Standard

Kelompok 1:
Diah Pramasti (21216955)
Fajar Oktavaria (22216562)
Hastika Aulia Firdhausya (27216973)
Rizky Akbar (26216592)
Widi Fadila W.P (27216625)

Kelas: 1EB19

Mata Kuliah: Perekonomian Indonesia#

  1. Jelaskan tentang produk domestik bruto, berikan contoh yang berkaitan dengan PDB!

PDB atau Produk Domestik Bruto dalam bahasa internasional disebut juga GDP atau Gross Domestic Product. Menurut para ahli, PDB dapat diartikan bahwa jumlah produksi baik barang atau jasa yang telah dihasilkan oleh unit produksi di suatu daerah pada saat tertentu. Menurut Gregory Mankiw, pengertian Produk Domestik Bruto terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Seluruh pengeluaran untuk barang jadi dan jasa yang diproduksi dalam negeri,atau
  • Seluruh pendapatan yang dihasilkan oleh seluruh pemilik faktor produksi dalam negeri.

Produk Domestik Bruto (PDB) pada umumnya digunakan sebagai:

  • Indikator baik buruknya perekonomian negara
  • Tolak ukur kesejahteraan masyarakat
  • Bagi para ekonom, ahli statistika, dan wartawan, dapat digunakan sebagai proyeksi pertumbuhan & perkembangan ekonomi
  • Walaupun perhitungan pendapatan nasional bukan merupakan ilmu yang pasti, dapat memberikan informasi kinerja ekonomi serta bagaimana produksi/pendapatan dihasilkan dan pengeluaran dialokasikan
  • Mengukur produktivitas suatu negara

PDB terdiri atas empat komponen, yaitu:

  • Konsumsi Privat (Private Consumption); menghitung konsumsi dari individu atau rumah tangga untuk beberapa jenis barang seperti;
  1. Durable Goods yakni barang yang memiliki yang relatif panjang (lebih dari 3 tahun). Contoh: motor, mobil, elektronik dan lain-lain tapi tidak termasuk untuk pembelian rumah baru.
  2. Non-Durable Goods yakni barang yang langsung dikonsumsi dan habis manfaatnya. Contoh, makanan, minuman, sepatu dan lain-lain.
  3. Service yakni konsumsi untuk jasa. Contoh, jasa dokter.
  • Investasi (Investment); menghitung suatu pengeluaran untuk barang modal. Contoh: pembelian rumah, membangun pabrik baru, program baru dan berbagai jenis investasi lainnya.
  • Pengeluaran Pemerintah (Government Spending); menghitung semua pengeluaran yang Pemerintah lakukan. Contoh: membayar gaji PNS atau pegawai pemerintah, membeli peralatan militer, membangun jalan dan lain-lain.
  • Ekspor Bersih (Net Export); menghitung selisih yang didapat dari Total Ekspor dikurangi Total Impor.

Rumus Mencari PDB

PDB = C + I + G + (X-M)

Keterangan :

  • PDB: Produk Domestik Bruto
  • C : Konsumsi rumah tangga
  • I  : Investasi
  • G : Konsumsi pemerintah
  • X : Ekspor
  • M : Impor

Rumus tersebut menjelaskan bahwa apabila konsumsi bertambah makan akan berpengaruh pada PDB yang akan meningkat pula. Begitu juga dengan Investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih apabila mengalami peningkatan maka jumlah PDB akan meningkat. Hal ini akibat komponen-komponen tersebut berada dalam satu fungsi linier.

Oleh karena itu, setiap negara selalu berusaha untuk meningkatkan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan nilai ekspor bersih. Secara kasar, PDB dapat dijadikan ukuran kesejahteraan ekonomi suatu negara. Namun, ukuran ini tidak terlalu tepat. Karena jika hanya melihat PDB, perhitungan tersebut masih mengabaikan faktor jumlah penduduk. Berikut adalah data pertumbuhan PDB Indonesia 1998 – 2015 secara rata-rata:

pdb

2. Jelaskan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi di Indonesia!

  • Pertumbuhan ekonomi

Di dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dinyatakan secara ekspilist bahwa pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Walaupun bukan suatu indikator yang bagus, tingkat kesejahteraan masyarakat dilihat dari aspek ekonominya, dapat diukur dengan  penadapatan nasional (PN) perkapita. Untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional,  pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan pertumbuhan PDB dan menjadi salah satu target  penting yang harus dicapai dalam pembangunan ekonomi.

  • Konsep dan Cara Penghitungan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan).

Pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam  pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (cateris paribus), yang selanjutnya akan mencipatakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan.

Ada dua arti pendapatan nasional (PN). Dalam arti sempit pendapatan nasional (PN) adalah pendapatan nasional (PN). Sedangkan dalam arti luas, pendapatan nasional (PN) dapat merujuk ke PDB, atau merujuk ke produk nasional bruto (PNB), atau ke produk nasional netto (PNN). PDB dapat diukur dengan tiga macam pendekatan, yaitu  pendekaan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran.

  • Sumber – Sumber Pertumbuhan

a) Pertumbuhan permintaan agregat

Peningkatan bisa terjadi karena Pendapatan Nasional, yang terdiri atas peningkatan permintaan masyarakat (konsumen),  perusahaan, dan pemerintah. Sisi permintaan agregat (penggunaan PDB) terdiri dari 4 komponen yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pengeluaran pemerintah, dan ekspor netto

    b) Pertumbuhan penawaran agregat

Pertumbuhan output bisa disebabkan oleh peningkatan volume dari faktor– faktor produksi yang digunakan, seperti tenaga kerja, modal (kapital), tanah; faktor produksi terakhir ini khususnya penting bagi sektor pertanian, dan energi.

  • Teori dan Model Pertumbuhan – Teori Klasik

Dasar pemikiran dari teori klasik adalah pembangunan ekonomi dilandasi oleh sistem liberal, yang mana pertumbuhan ekonomi dipacu oleh semangat untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Beberapa teori klasik tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Teori pertumbuhan Adam Smith:Terdapat tiga faktor penentu proses produksi atau pertumbuhan yaitu SDA, SDM, barang modal.
  2. Teori pertumbuhan David Ricardho: Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh SDA yang terbatas jumlahnya, dan jumlah penduduk yang menghasilakan jumlah tenaga kerja yang menyesuaikan diri dengan tingkat upah, di atas atau di bawah tingkat upah alamiah.
  3. Teori pertumbuhan Thomas Robert Malthus: Ukuran keberhasilan pembangunan suatu ekonomi adalah kesejahteraan negara, yaitu jika PNB potensialnya meningkat. Sektor yang didominankan adalah  pertanian dan industri.
  4. Teori Marx: Marx membuat lima tahapan pembangunan perkembangan sebuah perekonomian yaitu, perekonomian komunal primitif, perekonomian perbudakan, perekonomian feodal, perekonomian kapitalis , dan perekonomian sosialis. Titik kritis dari teori marx adalah transisi dari perekonomian kapitalis ke perekonomian sosialis.
  5. Teori Neo Keynesian: Keseimbangan pertumbuhan ekonomi jangka panjang melihat pengaruh dari investasi, baik pada  permintaan agregat maupun perluasan kapasitas produksi atau penawaran agregat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
  6. Teori Neo Klasik: Didasarkan pada kritik atas kelemahan-kelemahan atau penyempurnaan terhadap pandangan atau asumsi dari teori klasik. Beberapa model neo-klasik antara lain ; a) Model pertumbuhan A.Lewis,  b) Teori pertumbuhan Paul A. Baran, c) Teori ketergantungan neo-kolonial, d) Model pertumbuhan W.W. Rostow, e) Model pertumbuhan Solow.
  7. Teori Modern: Selain faktor– faktor produksi krusial seperti tenaga kerja dan modal, kualitas SDM dan kemajuan teknologi, energi, kewirausahaan, bahan baku dan material juga diperhatikan. Teori ini mementingkan kualitas tenaga kerja dari pada kuantitasnya
  • Perubahan Struktur Ekonomi

Pada umumnya merupakan transformasi struktural yang didefinisikan sebagai suatu rangkain perubahan yang saling terkait satu sama lainnya dalam komposisi  permintaan agregat, perdangan luar negeri (ekspor dan impor), penawaran agregat (produksi dan penggunaan faktor – faktor produksi yang diperlukan guna mendukung proses  pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisa perubahan struktur ekonomi:

  • Teori Arthur Lewis Membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di pedesaan dan  perkotaan. Teori ini mengamsusikan perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama.
  • Teori Horis Chenery ;Proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat  bila pergerseran pola permintaan domestik kearah output industri manufaktur diperkuat oleh  perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor.

3. Jelaskan sejarah pertumbuhan ekonomi selama orde baru hingga saat ini

1) Perekonomian Indonesia pada Masa Orde Baru

Petengahan dasawarsa 60-an adalah masa suram bagi perekonomian Indonesia. Tingkat produksi dan investasi di berbagai sektor utama menunjukkan kemunduran semenjak tahun 1950. Pendapatan riil per kapita dalam tahun 1966 sangat mungkin lebih rendah dari pada dalam tahun 1938. Sektor industri yang menyumbangkan hanya sekitar 10% dari GDP dihadapkan pada masalah pengangguran kapasitas yang serius. Di awal dasawarsa tersebut defisit anggaran belanja negara mencapai 50% dari pengeluaran total negara, penerimaan ekspor sangat menurun, dan selama tahun 1964 – 1966 hiperinflasi melanda negara ini dengan akibat lumpuhnya perekonomian.

Setelah tahun 1966, pemerintahan Orde Baru memberi tekanan khusus pada produksi pangan (terutama beras) dan sandang, sedang modal asing didorong, terutama di sektor industri dan penerbangan. Menjelang tahun 1977 perekonomian Indonesia telah mengalami perubahan struktur secara cukup menyolok, sebagai akibat kebijaksanaan ekonomi pemerintah bersama – sama dengan kenaikan harga minyak.

Pada permulaan Orde Baru program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional. Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. Secara garis besar, upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru, pemerintah menempuh cara sebagai berikut :

  1. Pembangunan Nasional; Tujuan Pembangunan nasional adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pelaksanaannya pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu:
  2. Kerja Sama Luar Negeri
  3. Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi; Stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi.
  4. Jangka panjang mencakup periode 25 sampai 30 tahun
  5. Jangka pendek mencakup periode 5 tahun (Pelita/Pembangunan Lima Tahun), merupakan jabaran lebih rinci dari pembangunan jangka panjang sehingga tiap pelita akan selalu saling berkaitan/berkesinambungan.
    Selama masa Orde Baru terdapat 6 Pelita, yaitu :

    1. Pelita I (1 April 1969 hingga 31 Maret 1974)

    Menitik beratkan pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian. Tujuannya  adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya dengan sasaran dalam bidang pangan, sandang, Perbaikan prasarana,perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.

    1. Pelita II (1 April 1974 hingga 31 Maret 1979.)

    Menitik beratkan pada sektor pertanian dengan meningkatkan insdutri  yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku. Sasaran utamanya   adalah tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja.

    1. Pelita III (1 April 1979 hingga 31 Maret 1984.)

    Menitik beratkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.

    1. Pelita IV (1 April 1984 hingga 31 Maret 1989.)

    Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri. Terjadi resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan.

    1. Pelita V (1 April 1989 hingga 31 Maret 1994.)

    Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri. Indonesia memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 % per tahun.

    1. Pelita VI (1 April 1994 hingga 31 Maret 1999.)

    Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.

    2) Perekonomian Indonesia pada Masa Reformasi

    1. Presiden B. J Habibie

Pada  tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS mengalami suatu goncangan sehingga mendepresiasikan nilai Baht sekitar 15% – 20% hingga mencapai nilai terendah, yakni 28,20 baht per dolar AS.

Apa yang terjadi di Thailand akhirnya merebet ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Rupiah Indonesia mulai merendah sekitar pada bulan Juli 1997, dari Rp 2.500 menjadi Rp 2.950 per dolar AS. Nilai rupiah dalam dolar mulai tertekan terus dan pada tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah, yakni Rp 2.682 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup Rp 2.655 per dolar AS. Pada tahun 1998, antara bulan Januaru-Februari sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS dan pada bulan Maret nilai rupiah mencapai Rp 10.550 untuk satu dolar AS.

Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Kegoncangan terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp 2500 menjadi Rp 2650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak stabil.
  • Krisis rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisis ekonomi yang kemudian memunculkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
  • Pada awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi. Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sehingga kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi karena KKN semakin menjadi, banyak kerusuhan.

Langkah yang diambil oleh Habibie adalah:

  • Merekapitulasi perbankan dan menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.

Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independent berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang merupakan 3 (tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :

  1. Menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter
  2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
  3. Mengatur dan mengawasi BanMelikuidasi beberapa bank bermasalah.

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya

  • Menaikan nilai tukar rupiah

Selama lima bulan pertama tahun 1998, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berfluktuasi. Selama triwulan pertama, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai sekitar Rp9200,- dan selanjutnya menurun menjadi sekitar Rp8000 dalam bulan April hingga pertengahan Mei. Nilai tukar rupiah cenderung di atas Rp10.000,- sejak minggu ketiga bulan Mei. Kecenderungan meningkatnya nilai tukar rupiah sejak bulan Mei 1998 terkait dengan kondisi sosial politik yang bergejolak. nilai tukar rupiah menguat hingga Rp. 6500 per dollar AS di akhir masa pemerintahnnya.

  • Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

2. Presiden Abdurahman Wahid

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia mulai mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif, laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam negeri juga sudah mulai stabil. Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.

Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan merosot hingga 300 poin, dikarenakan lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam negeri.

Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat.

3. Presiden Megawati Soekarnoputri

Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain:

  • Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
  • Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
  • Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.

4. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara Indonesia atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut di berhentikan sampai pada tangan rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan SBY dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus bank century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya 93 miliar untuk menyelesaikan kasus bank century ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6 – 6,5 persen pada 2011. Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia.

Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada triwulan IV – 2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan masih berlanjut pada Januari 2010. Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang negara. Masalah-masalah besar lain pun masih tetap ada. Yaitu, pertumbuhan makro ekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh.

5. Presiden Joko Widodo

Periode akhir 2014 saat Jokowi-JK menerima tongkat estafet pemerintahan dari Presiden Susil Bambang Yudhoyono (SBY), perekonomian Indonesia memang tidak sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Limbungnya perekonomian global pada 2008 gara-gara krisis finansial di Amerika Serikat (AS) yang lantas menjalar ke berbagai negara. Hal itu menggembosi harga komoditas pertambangan, sektor yang sejak awal 2000-an menjadi motor utama penggerak ekonomi Indonesia. Akibatnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi sejak 2012 tak tertahankan. Ekonomi yang pada 2014 terus turun ke level 5,02 persen pada 2015 kembali merosot ke level 4,79 persen, level terendah sejak 2009.

Hingga semester I 2016, ekonomi Indonesia perlahan mulai merangkak naik, menggapai level 5,04 persen. Dari beragam indikator, pertumbuhan ekonomi memang menjadi jangkar sekaligus wajah kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Tahun ini pemerintah sebenarnya mematok target pertumbuhan ekonomi dalam APBN Perubahan 2016 sebesar 5,2 persen. Namun, angka itu sepertinya berat untuk diraih. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui bahwa angka realistis yang bisa dikejar adalah 5,1 persen.

Dalam dua tahun pertama pemerintahan maupun tiga tahun ke depan, pemerintah akan terus berfokus menggenjot pembangunan infrastruktur. Sebab, ketersediaan infrastruktur memang prasyarat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Salah satu kebijakan paling signifikan yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK adalah mereformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM). Anjloknya harga minyak memang menggerus penerimaan negara dari sektor migas. Tapi sekaligus menjadi berkah karena ikut menurunkan harga BBM. Jokowi-JK pun lantas memangkas subsidi solar. Bahkan, sama sekali menghilangkan subsidi untuk BBM jenis premium.

Meski awalnya mendapat tentangan di sana-sini, pertaruhan popularitas itu berbuah manis. Dari pemangkasan subsidi tersebut, pemerintah bisa mengantongi efisiensi hingga Rp 211,3 triliun. Dengan ruang fiskal itulah, pemerintah bisa bergerak lincah menyasar program pembangunan infrastruktur, kesehatan, hingga pendidikan. Berbagai indikator seperti angka kemiskinan, pengangguran, rasio Gini yang mencerminkan ketimpangan ekonomi, hingga inflasi memang berhasil ditekan. Namun, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 7 persen yang diusung Jokowi-JK di awal masa pemerintahan, dibutuhkan kerja ekstrakeras.

4. Sebutkan dan jelaskan faktor – faktor yang menentukan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia

Secara garis besar, terdapat sedikitnya 2 (dua) faktor yang menentukan prospek pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Adapun kedua faktor tersebut adalah faktor internal dan eksternal.

  • Faktor Internal

Krisis ekonomi pada tahun 1998 yang disebabkan oleh buruknya fundamental ekonomi nasional, serta lambatnya proses pemulihan ekonomi nasional pasca  peristiwa tersebut menyebabkan banyak investor asing yang enggan (bahkan hingga sampai saat ini) menanamkan modalnya di Indonesia. Kemudian proses pemulihan serta perbaikan ekonomi nasional juga tidak disertai kestabilan politik dan keamanan yang memadai, penyelesaian konflik sosial , serta tidak adanya kepastian hukum.

Padahal faktor-faktor non ekonomi inilah yang merupakan aspek penting dalam menentukan tingkat resiko yang terdapat di dalam suatu Negara untuk menjadi dasar keputusan bagi para pelaku usaha atau investor terutama asing, untuk melakukan usaha atau menginvestasikan modalnya di Negara tersebut.

  • Faktor Eksternal

Kondisi perdagangan dan perekonomian regional serta dunia merupakan faktor eksternal yang sangat penting untuk mendukung proses pemulihan ekonomi di Indonesia. Sebab, apabila kondisi perdagangan dan perekonomian  Negara-negara tersebut terutama mitra Indonesia sedang melemah, maka akan  berdampak pula pada proses pemulihan yang akan semakin mengulur waktu dan akibatnya dapat menghambat kemajuan perekonomian di Indonesia.

Selain itu, terdapat juga faktor-faktor penentu lainnya dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu :

  • Faktor Ekonomi
  1. Faktor Sumber Daya Alam

Kehadiran tanah sebagai sumber atau tempat berkumpulnya kekayaan alam dapat menjadi bahan untuk produksi. Tanpa didukung kemampuan sumber daya manusia untuk mengolah, sumber daya alam saja tidak dapat menjamin suatu keberhasilan proses tersebut.

2. Faktor IPTEK

Perkembangan terhadap ilmu pengetahuan serta perkembangan teknologi yang semakin lama semakin pesat. Percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja dari menggunakan tangan manusia menjadi mesin-mesin canggih berdampak pada aspek efisiensi, kuantitas, serta kualitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang pada akhirnya akan berdampak pada percepatan laju pertumbuhan ekonomi.

3. Faktor Sumber Daya Modal

Sumber daya modal diperlukan oleh manusia sebagai pengolah SDA serta untuk meningkatkan kualitas IPTEK. Namun, alokasi dana atau modal harus  efektif dan tepat sasaran sehinga dapat dimanfaatkan secara maksimal.

  • Faktor Non Ekonomi

1. Faktor Budaya

Berfungsi sebagai pendorong  atau penghambat sebuah proses pembangunan. Budaya yang bisa mendorong suatu pembangunan ialah sikap kerja cerdas, kerja keras, ulet serta jujur dan sebagainya.

2. Faktor Politik

Kondisi politik yang stabil akan memberikan kenyaanan bagi para individu dan mendukung kinerja dalam produksi sehingga individu akan bebas berinovasi dan mengembangkan segala potensinya.

3. Faktor Sumber Daya Manusia

Sebagai pelaksana dalam segala bentuk aktivitas perekonomian, kualitas yang baik dari segi pemikiran atau pekerjaan akan menciptakan sebuah produktifitas dalam kinerja atau produksi yang terjadi. Selain itu dengan kualitas yang mereka miliki mampu meningkatkan pendapatan nasional yang dimiliki oleh suatu negara.

5. Apakah dari keseluruhan faktor penentu tersebut dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan kebijakan pemerintah?

Seluruh faktor tersebut akan berjalan dan berkembang sesuai dengan kebijakan pemerintah. Karena tanpa adanya faktor-faktor tersebut, tidak ada yang dapat mendorong jalannya kebijakan pemerintah. Kebijakan yang mempercepat pertumbuhan adalah:

  • Kebijakan diversivikasi kegiatan ekonomi

Memodernkan kegiatan ekonomi yang ada dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang baru. Kegiatan ekonomi yang baru ini diharapkan dapat mempercepat informasi kegiatan ekonomi tradisional ke  kegiatan ekonomi modern

  • Mengembangkan infrastruktur

Modernisasi pertumbuhan ekonomi memerlukan infrasturuktur yang modern pula. Berbagai kegiatan ekonomi memerlukan infrastruktur yang berkembang, seperti jalan, jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, kawasan perindustrian, irigasi dan penyediaan air, listrik, dan jaringan telepon.

  • Meningkatkan tabungan dan investasi

Pendapatan masyarakat yang rendah menyebabkan tabungan masyarakat menjadi rendah. Padahal, pembangunan memerlukan tabungan yang besar untuk membiayai investasi yang dilakukan. Kekurangan investasi selalu dinyatakan sebagai salah satu sumber yang dapat menghambat pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu, syarat penting yang perlu dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah meningkatkan tabungan masyarakat

  • Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat

Pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna dalam pembangunan ekonomi. Individu yang memperoleh pendidikan tinggi cenderung akan memperoleh pendapatan yang lebih tingg. Jadi, semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh

  • Merumuskan dan melaksanakan perencanaan ekonomi

Kebijakan pemerintah yang konvensional yaitu kebijakan fiskal dan moneter tidak dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Untuk mengatasinya, pada tahap mula dari pembangunan ekonomi perencanaan pembangunan perlu dilakukan.

Melalui perencanaan pembangunan dapat pula ditentukan sejauh mana investasi swasta dan pemerintah perku dilakukan untuk mencapai suatu tujuan pertumbuhan yang telah ditentukan

6. Jelaskan perubahan struktur ekonomi dan dampaknya terhadap rakyat di Indonesia

Perubahan struktur ekonomi boleh dikatakan cukup pesat. Sejak tahun 1983 hingga krisis ekonomi, peran sektor-sektor primer (pertanian) cenderung menurun sedangkan sektor sekunder (seperti industri manufaktur; listrik, gas, dan air; serta kontruksi) dan sektor tersier (perdagangan, hotel, restoran, transportasi, komunikasi, bank, keuangan, dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya) terus meningkat.

Pada sektor pertanian sendiri juga telah terjadi perubahan struktur ekonomi antar subsektor yang tidak seimbang dengan perubahan struktur pangsa penyerapan tenaga kerja. Beban penumpukan tenaga kerja yang terjadi saat ini pada sektor pertanian tidak terdistribusi dengan merata pada masing-masing subsektor, di mana hampir semuanya ditanggung subsektor tanaman pangan sehingga kondisi keluarga petani tanaman pangan semakin memprihatinkan.

Secara umum, telah terjadi perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan komposisi penduduk berpendidikan menengah ke atas semakin besar. Sebaliknya, komposisi penduduk dengan tingkat pendidikan sekolah dasar ke bawah berkurang. Namun, perbaikan kualitas sumber daya manusia tersebut tidak diikuti oleh adanya kemampuan dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan kesempatan kerja sesuai dengan kualifikasi dari perbaikan kualitas sumber daya manusia tersebut. Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan:

  • Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian)
  • Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri)
  • Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi

Perubahan yang terjadi pada struktur ekonomi tersebut memberikan dampak, baik positif maupun negatif terhadap rakyat Indonesia di antaranya:

Dampak Positif

  • Meningkatkan pendapatan perkapita
  • Meningkatkan kepercayaan rakyat untuk bisa berkembang
  • Meningkatnya keahlian
  • Meningkatkan SDM dan SDA
  • Pendidikan dapat diperbaiki
  • Mengurangi jumlah pengangguran
  • Munculnya lapangan pekerjaan
  • Melancarkan kegiatan ekonomi
  • Meningkatkan pendapatan nasional
  • Berkembang dengan pesatnya teknologi

Dampak Negatif

  • Pembangunan ekonomi tak terencana dengan baik sehingga mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup
  • Pembangunan industri mengakibatkan lahan pertanian semakin berkurang
  • Berkurang atau menghilangnya habitat alam baik berupa hayati maupun hewani

7. Berikan contoh kasus yang terkait dengan PDB, pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi di Indonesia, sertakan analisis sesuai materi!

Indonesia GDP to Grow 5.1% in Q1

Tuesday, March 07, 2017

Indonesia’s economy may grow at a year-on-year rate of 5.1% in the first quarter of this year, slightly exceeding the central bank’s prediction, a senior economist has said.

At that rate, the country’s gross domestic product growth in the first three months would be in line with the government’s target for the full year, said Bank Mandiri chief economist Anton Gunawan, Antara reported

Bank Indonesia has predicted that the economy would grow at a rate below 5.05%.

“We have yet to arrive at the exact calculation, but more or less growth in first quarter tends to be pushed higher by the agricultural sector due to the harvest season in February and March,” he said in a press briefing on Monday.

So far, he said, there was improvement in growth in several industries, such as food processing, automotive and pharmaceuticals as well as in telecommunication and banking.

Stable private consumption and a slight improvement in exports would be major contributors to the economic activity in the first quarter, with some help in a small rise in public investment, the bank’s assessment shows.

Meanwhile, government spending typically remains slow in the first three months due to seasonal factors. It tends to increase in later quarters, according to the assessment.

The government predicts that Indonesia’s GDP will reach $9.1 trillion by 2045.

President Joko “Jokowi” Widodo said, he recently ordered the finance ministry to calculate the figure in order to predict the country’s standing over the next two decades, during which Indonesia’s population is expected to reach around 310 million.

Indonesia’s GDP rose by 5.02% last year, compared with 4.88% in 2015, according to the Central Statistics Agency.

Analysis:

Indonesia’s gross domestic product may grow slightly exceeding Bank Indonesia’s prediction in the first quarter of this year. Growth in first quarter tends to be pushed higher by the agricultural sector due to the harvest season in February and March. Stable private consumption and a slight improvement in exports would be major contributors to the economic activity in the first quarter.

Referensi

Both, Anne., & Peter McCawley. 1990. Ekonomi Orde Baru. Diterjemahkan oleh: Boediono. Jakarta: LP3S

http://belajarekonomiyukk.weebly.com/pertumbuhan-ekonomi.html (diakses pada 25 Maret 2017 pukul 15.50 WIB)

http://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/publik/faktor-pertumbuhan-ekonomi (diakses pada 15 Maret 2017 pukul 14.37 WIB)

https://financialtribune.com/articles/world-economy/60922/indoensia-gdp-to-grow-51-in-q1 (diakses pada Selasa, 21 Maret 2017 pukul 17.31 WIB)

https://id.linkedin.com/pulse/sejarah-perekonomian-indonesia-ahmad-noormuhammad (diakses pada 9 Maret 2017 pukul 21:26 WIB)

http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/produk-domestik-bruto-indonesia/item253 (diakses pada 14 Maret 2017 pukul 10.07 WIB)

https://koinworks.com/blog/apa-itu-produk-domestik-bruto/ (diakses pada Rabu 8 Maret 2017 pukul 14:14 WIB)

http://manfaat.co.id/manfaat-pembangunan-ekonomi (diakses pada 25 Maret 2017 pukul 15.36 WIB)

http://www.academia.edu/11009416/PERTUMBUHAN_DAN_PERUBAHAN_STRUKTUR_EKONOMI (diakses pada 9 Maret 2017 pukul 00.31 WIB)

https://www.batampos.co.id/2016/10/17/dua-tahun-pemerintahan-jokowi-jk-ini-kondisi-ekonomi-indonesia/ (diakses pada 15 Maret 2017 pukul 12:20 WIB)

http://www.gurupendidikan.com/faktor-penentu-pertumbuhan-ekonomi-suatu-negara-jangka-panjang/ (diakses pada 12 Maret 2017 pukul 20.00 WIB)

https://www.scribd.com/doc/215164220/Perubahan-Struktur-Ekonomi-dalam-Peoses-Pembangunan (diakses pada 28 Maret 2017 pukul 08.45 WIB)

https://www.scribd.com/doc/239875700/Faktor-faktor-Penentu-Prospek-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia# (diakses pada 4 Maret 2017 pukul 09.22 WIB)

http://www.trendilmu.com/2017/01/dampak-positif-dan-negatif-pembangunan-ekonomi.html# (diakses pada 25 Maret 2017 pukul 15.40 WIB)

Pengaruh MEA Terhadap Ketenagakerjaan di Indonesia

Standard

I. Pendahuluan

Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan hal yang sangat penting untuk dicapai karena setiap negara menginginkan adanya proses perubahan perekonomian yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi akan menjadi indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu faktor sumber daya manusia, faktor sumber daya alam, faktor ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor  budaya, dan faktor daya modal.

Indonesia belum dapat memaksimalkan kelima faktor tersebut walaupun tercatat sebagai negara pemilik sumber daya alam paling berlimpah dan jumlah penduduk paling banyak di antara negara-negara di Asia Tenggara, yakni sekitar 250 juta orang atau 40 persen dari total penduduk ASEAN.

Hal tersebut menjadi alasan Indonesia untuk membentuk ASEAN Economic Community (AEC) 2015 atau lebih dikenal dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 bersama sembilan negara anggota ASEAN lainnya.

MEA – Masyarakat Ekonomi ASEAN – adalah pola integrasi ekonomi ASEAN (Association of South East Asian Nation) di mana adanya perdagangan bebas (free trade) antar negara-negara anggota ASEAN yang telah disepakati bersama untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif. MEA merupakan realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang tercantum dalam Visi ASEAN 2020 yang tercetus dalam KTT ke-2 ASEAN tahun 1997.

Dengan dimulainya MEA maka seluruh negara anggota ASEAN harus meleburkan batas teritori masing-masing negara dalam sebuah pasar bebas, tak terkecuali Indonesia. Terdapat lima hal yang tidak boleh dibatasi peredarannya yaitu, arus barang, arus jasa, arus modal, arus investasi dan arus tenaga kerja terdidik/profesional.

 II. Isi

Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Tiga golongan yang disebut terakhir – pencari kerja, bersekolah, dan mengurus rumah tangga – walaupun tidak bekerja, secara fisik dianggap mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja.

Untuk menghadapi MEA, tenaga kerja yang dianggap mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain adalah tenaga kerja terdidik/profesional yaitu tenaga kerja yang tingkat produktivitas dan tingkat partisipasi kerjanya tinggi.

Bagi Indonesia, MEA menjadi babak awal untuk mengembangkan berbagai kualitas perekonomian sekaligus menunjukkan kepada negara lain bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan kompetitif.

Dari aspek ketenagakerjaan, pemberlakuan MEA membuat tenaga kerja di Indonesia, terutama tenaga kerja terdidik/profesional, akan bersaing ketat dengan tenaga kerja asing. Pencari kerja ingin memperoleh pekerjaan dengan kondisi yang paling baik dan perusahaan ingin mencari calon pekerja yang paling sesuai untuk mengisi lowongan yang ada. Perusahaan tidak melihat lagi dari mana asal negara sumber daya manusia yang mendukung bisnisnya. Pilihan untuk tenaga kerja itu tidak harus mengambil dari lokal. Selama memenuhi kriteria kebutuhan perusahan, tenaga kerja dapat diambil dari negara lain.

Pengaruh positif kehadiran MEA bagi tenaga kerja di Indonesia adalah tersedia banyak lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian bagi para pencari kerja. Para tenaga kerja di Indonesia dapat bekerja di negara-negara ASEAN sesuai dengan keterampilan yang dimiliki sehingga dapat menyejahterakan kehidupan dan subsidi yang dikeluarkan oleh negara untuk kebutuhan primer akan berkurang.

Penghasilan dalam bentuk mata uang asing akan menambah devisa negara. Saat pekerja Indonesia yang bekerja di negara ASEAN lain mengirim sebagian penghasilannya ke Indonesia (misal: untuk keluarganya) dalam bentuk mata uang asing maka harus diubah ke bentuk mata uang Indonesia yaitu rupiah. Proses konversi ini disebut dengan jual beli mata uang. Jual beli mata uang akan menambah devisa negara karena mata uang asing di kas negara akan bertambah dan kebutuhan terhadap rupiah menguat.

Akses untuk ke luar negeri dalam rangka mencari pekerjaan juga menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa hambatan tertentu akibat meleburnya batas teritori masing-masing negara anggota ASEAN dalam sebuah pasar bebas,

Selain menghasilkan berbagai pengaruh positif, MEA juga dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas, Indonesia masih kalah saing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution, pada Seminar Nasional yang diadakan Universitas Negeri Jakarta pada 3 Mei 2016 lalu, sistem pendidikan formal yang ada di Indonesia masih belum relevan dengan kebutuhan tenaga kerja. Banyak sekali lembaga pendidikan dan pelatihan di Indonesia, namun kebanyakan tidak menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Hal tersebut membuat daya saing tenaga kerja kerja lokal rendah. Salah satu penyebab tenaga kerja lokal kesulitan bersaing dengan pekerja asing sesama ASEAN karena banyak lembaga profesi untuk sertifikasi yang belum diakui secara global.

Adanya pasar barang dan jasa secara bebas juga akan mengakibatkan tenaga kerja asing mudah masuk dan bekerja di Indonesia sehingga persaingan kerja semakin ketat (Media Indonesia, 27 Maret 2016). Berdasarkan Indeks Daya Saing Global 2016 yang dilaporkan oleh World Economic Forum 2016/2017, Indonesia menduduki posisi ke-41 dari 138 negara, jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya yaitu Thailand yang menduduki posisi ke-34, Malaysia ke-25, dan Singapura yang menduduki posisi ke-2.

Selain itu, kemampuan berbahasa tenaga kerja di Indonesia, terutama bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional, masih dianggap kurang. Walaupun sesama Asia Tenggara, bukan berarti masyarakat negara-negara anggota ASEAN juga mengerti bahasa Indonesia. Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris diperlukan agar komunikasi antar negara berjalan lancar sehingga tidak ada hambatan atau miskomunikasi dalam bekerja.

Begitu juga dengan kesiapan tenaga kerja Indonesia yang bergantung pada mental (BBC Indonesia, 2014). Menurut tenaga kerja Indonesia, tenaga kerja asing jauh lebih andal, cerdas, dan kompetitif sehingga tenaga kerja Indonesia merasa kecil hati. Padahal, rasa percaya dirilah yang membuat tenaga kerja asing terlihat seperti apa yang dilihat oleh tenaga kerja Indonesia.

III. Penutup

  • Kesimpulan

Secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya. Namun, persaingan secara kuantitas tidak akan memenangkan persaingan ketika kualitas masih jauh di bawahnya.

Kehadiran MEA menjadi peluang Indonesia untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan seperti menambah devisa negara. Jika Indonesia tidak mempersiapkan diri menghadapi persaingan dengan tenaga kerja asing – negara-negara anggota ASEAN – maka MEA akan memberikan pengaruh negatif bagi tenaga kerja Indonesia.

Apabila tenaga kerja di Indonesia tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara anggota ASEAN lainnya maka akan memunculkan permasalahan lain yang lebih kompleks seperti meningkatnya jumlah pengagguran di Indonesia.

  • Saran

Pemerintah memang berpengaruh sangat besar untuk mendorong kemajuan kualitas tenaga kerja di Indonesia, tetapi tanpa adanya kesadaran dari setiap individu sebagai bagian dari MEA 2015 akan sangat sulit mencapai target yang hendak dicapai oleh Indonesia. MEA 2015 harus dijadikan media bagi tenaga kerja Indonesia untuk belajar bersaing di tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat Asia Tenggara. Terkait dengan kendala tersebut, sudah seharusnya setiap individu sadar bahwa pelatihan keterampilan perlu diikuti untuk memberikan pembelajaran dan meningkatkan kompetensi serta kualitas SDM. Selain meningkatkan kompetensi SDM, kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, juga perlu ditingkatkan.

Selain itu, perlu diadakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sehingga mampu menumbuhkan rasa optimis dan percaya diri pada masyarakat terutama para tenaga kerja agar siap bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Referensi:

BAPPEDA KABUPATEN MALANG. 2015. Kabupaten Malang Menuju MEA 2015. Malang: BAPPEDA Kabupaten Malang

Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

http://crmsindonesia.org/knowledge/crms-articles/peluang-tantangan-dan-risiko-bagi-indonesia-dengan-adanya-masyarakat-ekonomi

http://lpmgemakeadilan.com/2015/06/indonesia-dalam-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea/

http://www.bisnis.com/industri/read/20161004/257/589465/indeks-daya-saing-indonesia-melemah-begini-respons-kppu/

http://www.bumn.go.id/jiwasraya/berita/565/DIREKTUR.UTAMA.JIWASRAYA.JADI.NARASUMBER.PADA.SEMINAR.NASIONAL/

http://www.jawapos.com/read/2016/02/19681/mea-persaingan-antara-tenaga-kerja-lokal-dengan-tka/

http://www.lungo.id/2016/06/mengapa-tki-disebut-pahlawan-devisa.html

http://www.resellerdompet.com/2016/08/15/meaindonesia/

http://www.suaramahasiswa.com/mea-2015-ajang-kompetisi-kualitas-tenaga-kerja/

Bauran Pemasaran: BITES (Nasi Isi Ayam)

Standard

Anggota kelompok:

  1. Atika Heni P. (21216178)
  2. Hastika Aulia F. (27216973)
  3. Lidia Oktaviani (24216042)
  4. Putri Estiningrum (25216850)
  5. Tia Aryani (27216373)
  6. Widi Fadila W.P. (27216625)

Product (Produk)

  • Produk yang dijual adalah “BITES”.
  • Makanan ini merupakan makanan yang sederhana dan praktis karena hanya dengan membuka kemasan, makanan dapat langsung dimakan
  • Cocok sekali untuk orang yang enggan membawa bekal.
  • BITES memiliki 5 varian rasa yaitu:
    1. Ayam kecap
    2. Ayam balado
    3. Ayam rujak
    4. Ayam rendang
    5. Ayam opor

Price (Harga)

Rp 10.000 per pcs untuk semua varian rasa.

Place (Tempat)

  • Diproduksi dan didistribusi di Jl. Prambanan 7 No. 16, RT 01 RW 008 Rawalumbu Utara, Bekasi Timur.
  • Distribusi lainnya dilakukan dengan mendatangi beberapa sekolah, diantar menggunakan jasa Go-jek, dan dapat diambil langsung di rumah oleh konsumen.

Promotion (Promosi)

  1. Personal Selling

Penjual menawarkan langsung secara lisan & bertatap muka kepada konsumen.

  1. Word Of Mouth (mulut ke mulut)

Konsumen memperkenalkan BITES kepada konsumen lain.

  1. Media Sosial

Penjual memperkenalkan & menjual BITES melalui akun instagram @BITESfood .

  1. Brosur

Alur Ilustrasi Majestyk Bakery & Cake Shop

Standard

Pemeran:

  1. Atika Heni P. (21216178) sebagai pelayan 1
  2. Hastika Aulia F. (27216973) sebagai kasir
  3. Lidia Oktaviani (24216042) sebagai pelayan 2
  4. Putri Estiningrum (25216850) sebagai pelanggan 1
  5. Tia Aryani (27216373) sebagai pelanggan 2
  6. Widi Fadila W.P. (27216625) sebagai pelanggan 3

Alur ilustrasi:

Pada suatu hari di Toko Roti dan Kue, Majestyk, datanglah 3 pelanggan yang ingin membeli roti. Kedatangan ketiga pelanggan tersebut disambut oleh seorang pelayan di pintu masuk dengan senyuman yang ramah sambil mengatakan ”Selamat datang di Majestyk! Selamat belanja!”. Ketiga pelanggan tersebut merespon dengan senyum.

Sesampainya di meja tempat roti-roti dijual, para pelanggan mulai memilih-milih roti. Sayang, roti yang diinginkan pelanggan tidak tersedia di display. Tidak lama kemudian, datang seorang pelayan yang menawarkan bantuan. Mereka menanyakan ketersediaan roti yang mereka inginkan. Pelayan tersebut kemudian pergi untuk mencari roti yang diinginkan pelanggan tersebut. Ternyata, roti yang diinginkan pelanggan tersebut juga tidak ada di dapur. Mereka memutuskan untuk membeli roti yang tersedia di display.

Setelah memilih roti, mereka berjalan menuju kasir sambil membawa roti yang akan mereka beli untuk membayar. Setelah kasir menghitung total pembelian, kasir menawarkan suatu promo yaitu beli 1 pcs roti tawar akan mendapat gratis 1 buah cup cake. Pelanggan tertarik dan memutuskan untuk membeli roti tawar. Kasir memberi kode kepada pelayan untuk mengambil roti tawar dan cup cake.

Setelah pelayan datang membawa roti tawar dan cup cake, kasir kembali menghitung total pembelian mereka. Karena tidak membawa uang tunai, pelanggan membayar menggunakan kartu kredit. Setelah transaksi selesai, kasir memberikan satu kantong plastik berisi roti-roti yang mereka beli dan tidak lupa kasir mengucapkan terima kasih kepada pelanggan tersebut.

Selesai membeli roti, mereka pulang dan kembali disambut oleh pelayan dengan senyum sambil mengatakan “Terima kasih, Kak. Selamat datang kembali!”